Isi Berita / Informasi
KARANGANYAR — Menit demi menit berlalu di ruang kelas XI Teknik Jaringan Akses Telekomunikasi (TJAT) SMK Negeri Jenawi pada Selasa pagi. Memasuki jam pelajaran ke-3 dan ke-4, atmosfer ruang kelas berubah menjadi laboratorium kerja yang penuh konsentrasi. Bukan lagi sekadar mendengarkan paparan teori komputasi, hari itu para siswa ditantang untuk menjinakkan teknologi masa kini: Jaringan FTTx (Fiber to the x).
Kegiatan ini bukan aktivitas akademik biasa. Di sudut ruangan, mengamati dengan saksama, hadir Bapak Eko Mei Shodiq S.S., S.Kom. selaku supervisor sekolah. Kehadirannya di sana adalah untuk mengawal kualitas implementasi Kurikulum Merdeka melalui proses supervisi guru, memastikan bahwa Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) benar-benar membumi dan dieksekusi secara presisi.
Melompat dari Teori Menuju Implementasi Nyata
Fokus supervisi kali ini tertuju pada Capaian Pembelajaran (CP) 3.2: Memahami konsep dan implementasi konfigurasi jaringan FTTx. Targetnya tidak main-main. Peserta didik tidak hanya dituntut tahu secara kognitif, melainkan harus mampu melakukan instalasi hingga proses troubleshooting pada jaringan berbasis serat optik.
Papan tulis dan presentasi digital digeser. Sebagai gantinya, meja-meja praktik dipenuhi dengan perangkat-perangkat krusial. Hari itu, para siswa kelas XI TJKT diuji kemampuannya dalam Teknik Penyambungan Serat Optik (Drop Core) Menggunakan Fusion Splicer.
Di sinilah letak ujian mental yang sesungguhnya. Serat optik bukanlah kabel tembaga biasa yang bisa disambung dengan pelintiran tangan. Kita sedang berbicara tentang sehelai kaca super tipis seukuran rambut manusia, tempat di mana data dan informasi mengalir dalam bentuk propagasi gelombang cahaya.
Detik-Detik Krusial di Depan Fusion Splicer
Mengamati jalannya praktik di bawah supervisi Pak Eko Mei Shodiq memberikan pemandangan yang menarik. Ada ketegangan yang positif di wajah para siswa. Tangan mereka harus stabil saat melakukan stripping (pengupasan kulit drop core), jemari mereka harus presisi saat melakukan cleaving (pemotongan inti kaca), dan fokus mereka harus penuh saat meletakkan serat optik ke dalam V-groove mesin Fusion Splicer.
Ketika penutup mesin ditutup dan busur api listrik (arc) meleburkan kedua ujung serat optik, layar monitor kecil di mesin itu menjadi pusat semesta bagi kelompok yang sedang praktik.
Apakah sambungannya lurus?
Berapa besar loss (redaman) yang dihasilkan?
Apakah proses penyambungan berhasil, atau mereka harus memotong dan mengulangnya dari awal?
Di titik inilah supervisi menemukan esensinya. Pak Eko Mei Shodiq tidak hanya melihat hasil akhir, melainkan memantau bagaimana guru bidang studi mengarahkan siswa, bagaimana SOP keselamatan kerja ditegakkan, dan bagaimana para siswa mengatasi masalah (troubleshooting) ketika hasil penyambungan tidak sesuai standar industri.
"Pendidikan vokasi yang hebat tidak diukur dari seberapa tebal buku teks yang dihafal siswa, melainkan dari seberapa terampil jemari mereka mengeksekusi teknologi standar industri. Di kelas XI TJKT hari ini, kita melihat cikal bakal teknisi masa depan," ujar sebuah catatan refleksi dari proses supervisi tersebut.
Menyiapkan Teknisi Masa Depan yang Adaptif
Jaringan FTTx adalah tulang punggung internet cepat yang kita nikmati hari ini di rumah-rumah dan perkantoran. Dengan melatih siswa menggunakan Fusion Splicer secara langsung, SMK Negeri Jenawi sedang memastikan bahwa lulusannya tidak menjadi penonton di era digitalisasi, melainkan menjadi pelaku utama.
Supervisi yang dilakukan oleh Bapak Eko Mei Shodiq S.S., S.Kom. pada jam ke-3 dan ke-4 ini menegaskan satu hal: SMKN Jenawi terus menjaga komitmennya. Mereka memastikan bahwa apa yang tertulis di dokumen Alur Tujuan Pembelajaran, benar-benar menjelma menjadi kompetensi nyata yang siap diadu di dunia kerja.
Hari itu, dari seutas kabel drop core dan kilatan mesin fusion splicer, sebuah standar mutu pendidikan berhasil dijaga. (***)
Kegiatan ini bukan aktivitas akademik biasa. Di sudut ruangan, mengamati dengan saksama, hadir Bapak Eko Mei Shodiq S.S., S.Kom. selaku supervisor sekolah. Kehadirannya di sana adalah untuk mengawal kualitas implementasi Kurikulum Merdeka melalui proses supervisi guru, memastikan bahwa Alur Tujuan Pembelajaran (ATP) benar-benar membumi dan dieksekusi secara presisi.
Melompat dari Teori Menuju Implementasi Nyata
Fokus supervisi kali ini tertuju pada Capaian Pembelajaran (CP) 3.2: Memahami konsep dan implementasi konfigurasi jaringan FTTx. Targetnya tidak main-main. Peserta didik tidak hanya dituntut tahu secara kognitif, melainkan harus mampu melakukan instalasi hingga proses troubleshooting pada jaringan berbasis serat optik.
Papan tulis dan presentasi digital digeser. Sebagai gantinya, meja-meja praktik dipenuhi dengan perangkat-perangkat krusial. Hari itu, para siswa kelas XI TJKT diuji kemampuannya dalam Teknik Penyambungan Serat Optik (Drop Core) Menggunakan Fusion Splicer.
Di sinilah letak ujian mental yang sesungguhnya. Serat optik bukanlah kabel tembaga biasa yang bisa disambung dengan pelintiran tangan. Kita sedang berbicara tentang sehelai kaca super tipis seukuran rambut manusia, tempat di mana data dan informasi mengalir dalam bentuk propagasi gelombang cahaya.
Detik-Detik Krusial di Depan Fusion Splicer
Mengamati jalannya praktik di bawah supervisi Pak Eko Mei Shodiq memberikan pemandangan yang menarik. Ada ketegangan yang positif di wajah para siswa. Tangan mereka harus stabil saat melakukan stripping (pengupasan kulit drop core), jemari mereka harus presisi saat melakukan cleaving (pemotongan inti kaca), dan fokus mereka harus penuh saat meletakkan serat optik ke dalam V-groove mesin Fusion Splicer.
Ketika penutup mesin ditutup dan busur api listrik (arc) meleburkan kedua ujung serat optik, layar monitor kecil di mesin itu menjadi pusat semesta bagi kelompok yang sedang praktik.
Apakah sambungannya lurus?
Berapa besar loss (redaman) yang dihasilkan?
Apakah proses penyambungan berhasil, atau mereka harus memotong dan mengulangnya dari awal?
Di titik inilah supervisi menemukan esensinya. Pak Eko Mei Shodiq tidak hanya melihat hasil akhir, melainkan memantau bagaimana guru bidang studi mengarahkan siswa, bagaimana SOP keselamatan kerja ditegakkan, dan bagaimana para siswa mengatasi masalah (troubleshooting) ketika hasil penyambungan tidak sesuai standar industri.
"Pendidikan vokasi yang hebat tidak diukur dari seberapa tebal buku teks yang dihafal siswa, melainkan dari seberapa terampil jemari mereka mengeksekusi teknologi standar industri. Di kelas XI TJKT hari ini, kita melihat cikal bakal teknisi masa depan," ujar sebuah catatan refleksi dari proses supervisi tersebut.
Menyiapkan Teknisi Masa Depan yang Adaptif
Jaringan FTTx adalah tulang punggung internet cepat yang kita nikmati hari ini di rumah-rumah dan perkantoran. Dengan melatih siswa menggunakan Fusion Splicer secara langsung, SMK Negeri Jenawi sedang memastikan bahwa lulusannya tidak menjadi penonton di era digitalisasi, melainkan menjadi pelaku utama.
Supervisi yang dilakukan oleh Bapak Eko Mei Shodiq S.S., S.Kom. pada jam ke-3 dan ke-4 ini menegaskan satu hal: SMKN Jenawi terus menjaga komitmennya. Mereka memastikan bahwa apa yang tertulis di dokumen Alur Tujuan Pembelajaran, benar-benar menjelma menjadi kompetensi nyata yang siap diadu di dunia kerja.
Hari itu, dari seutas kabel drop core dan kilatan mesin fusion splicer, sebuah standar mutu pendidikan berhasil dijaga. (***)