Isi Berita / Informasi
Jenawi (19/06/2026) – Mentari pagi di halaman SMK Negeri Jenawi seakan ikut menyinari langkah tegap siswa-siswi kelas X yang berbaris rapi pagi itu. Mereka bukan lagi sekadar peserta didik baru, melainkan calon-calon ksatria muda yang siap menerima mandat sebagai Taruna Angkatan IV. Jumat pagi yang semilir itu menjadi saksi bisu sebuah transformasi jiwa, dari siswa biasa menjadi insan terdidik yang digembleng kedisiplinan, tanggung jawab, dan integritas dalam naungan pendidikan ketarunaan. Suasana khidmat langsung terasa saat seluruh peserta, yang berasal dari Program Keahlian Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO), Teknik Jaringan Komputer dan Telekomunikasi (TJKT), dan Akuntansi dan Keuangan Lembaga (AKL), memasuki area upacara dengan dada membusung, siap diukuhkan dalam sebuah prosesi sakral.
Prosesi pelantikan yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB itu mencapai puncak sakral saat Kepala SMK Negeri Jenawi, Andi Saputro, S.Kom., melakukan penyiraman air bunga dan penyematan epolet kepada perwakilan Taruna. Sejuknya air bunga yang membasahi ubun-ubun dan tersematnya epolet di pundak bukan sekadar simbol seremonial, melainkan penanda bahwa tanggung jawab moral telah resmi bertengger di bahu mereka. Dalam amanatnya yang penuh wibawa, Andi Saputro menegaskan bahwa ketarunaan adalah tempaan hati. “Hari ini kalian tidak hanya dilantik, tetapi ditempa untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia, berjiwa pemimpin, dan mencintai negeri ini dengan segenap jiwa. Di era industri yang serba cepat dan keras, hanya mereka yang memiliki kesiapan fisik dan mental, serta kepribadian yang sigap dan mandiri, yang akan mampu berdiri tegak. Jadilah pribadi yang mampu beradaptasi, namun tidak kehilangan jati diri sebagai penerus bangsa,” ujarnya dengan nada yang menusuk sanubari.
Senada dengan hal tersebut, Puji Utomo, S.Pd., selaku perwakilan Komite Sekolah yang turut memberikan sambutan, menyampaikan pesan penuh kebijaksanaan tentang hakikat pendidikan. Mengutip filosofi Ki Hadjar Dewantara, ia mengingatkan bahwa keluarga dan sekolah adalah satu ekosistem yang tak terpisahkan. “Anak-anakku sekalian, pelantikan ini bukanlah garis finish, melainkan garis start untuk berlari lebih kencang menuju masa depan. Komite dan orang tua sepenuhnya percaya bahwa SMK Negeri Jenawi adalah ladang subur yang akan menyemaikan benih-benih patriotisme dan kemandirian. Tugas kami adalah mendoakan, tugas kalian adalah membuktikan bahwa kalian adalah generasi tangguh yang mampu bekerja sama tanpa mengeluh dan beradaptasi tanpa kehilangan arah,” tutur Puji Utomo, mewakili suara hati para orang tua yang hadir. Kalimatnya seolah menjadi jembatan emosional yang menghubungkan harapan para wali murid dengan janji suci para Taruna.
Selepas pengukuhan, langit SMK Negeri Jenawi seolah ikut bergemuruh menyaksikan aksi memukau dari Pasukan Inti Bhaskara Nusantara. Penampilan tari tradisional, demonstrasi Bela Diri Taruna (BDT) yang memacu adrenalin, serta formasi Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan variasi yang dieksekusi dengan presisi tinggi berhasil memukau seluruh hadirin. Gerakan serempak dan lantangnya teriakan yel-yel menjadi bukti fisik bahwa tempaan berbulan-bulan telah merubah mereka menjadi pribadi yang solid. Namun, momen paling mengharukan terjadi saat acara usai. Tangis haru tak terbendung dari para orang tua wali murid yang menyaksikan anak-anak mereka berdiri dengan gagah berseragam Taruna. Air mata itu adalah representasi dari doa-doa panjang yang akhirnya berbuah ketegaran, sebuah pemandangan yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap Taruna yang tegap, ada cinta dan pengorbanan orang tua yang tak bertepi.
Peristiwa ini mengajarkan kita sebuah pesan yang mendalam: kedisiplinan dan cinta tanah air bukanlah sesuatu yang diwariskan melalui kata-kata kosong, melainkan melalui proses, keteladanan, dan air mata perjuangan. SMK Negeri Jenawi tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi juga membentuk manusia yang siap menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan lingkungannya. Seperti epolet yang kini tersemat, semoga terus mengingatkan para Taruna Angkatan IV bahwa mereka sedang memikul kehormatan, nama baik almamater, serta masa depan bangsa. Semoga semangat yang berkobar di halaman sekolah ini tidak pernah padam, melainkan menjadi api kecil yang menerangi perjalanan hidup kalian menuju puncak cita-cita. Jayalah Taruna SMK Negeri Jenawi! Jayalah generasi penerus bangsa!
Prosesi pelantikan yang berlangsung dari pukul 07.00 hingga 09.00 WIB itu mencapai puncak sakral saat Kepala SMK Negeri Jenawi, Andi Saputro, S.Kom., melakukan penyiraman air bunga dan penyematan epolet kepada perwakilan Taruna. Sejuknya air bunga yang membasahi ubun-ubun dan tersematnya epolet di pundak bukan sekadar simbol seremonial, melainkan penanda bahwa tanggung jawab moral telah resmi bertengger di bahu mereka. Dalam amanatnya yang penuh wibawa, Andi Saputro menegaskan bahwa ketarunaan adalah tempaan hati. “Hari ini kalian tidak hanya dilantik, tetapi ditempa untuk menjadi pribadi yang berakhlak mulia, berjiwa pemimpin, dan mencintai negeri ini dengan segenap jiwa. Di era industri yang serba cepat dan keras, hanya mereka yang memiliki kesiapan fisik dan mental, serta kepribadian yang sigap dan mandiri, yang akan mampu berdiri tegak. Jadilah pribadi yang mampu beradaptasi, namun tidak kehilangan jati diri sebagai penerus bangsa,” ujarnya dengan nada yang menusuk sanubari.
Senada dengan hal tersebut, Puji Utomo, S.Pd., selaku perwakilan Komite Sekolah yang turut memberikan sambutan, menyampaikan pesan penuh kebijaksanaan tentang hakikat pendidikan. Mengutip filosofi Ki Hadjar Dewantara, ia mengingatkan bahwa keluarga dan sekolah adalah satu ekosistem yang tak terpisahkan. “Anak-anakku sekalian, pelantikan ini bukanlah garis finish, melainkan garis start untuk berlari lebih kencang menuju masa depan. Komite dan orang tua sepenuhnya percaya bahwa SMK Negeri Jenawi adalah ladang subur yang akan menyemaikan benih-benih patriotisme dan kemandirian. Tugas kami adalah mendoakan, tugas kalian adalah membuktikan bahwa kalian adalah generasi tangguh yang mampu bekerja sama tanpa mengeluh dan beradaptasi tanpa kehilangan arah,” tutur Puji Utomo, mewakili suara hati para orang tua yang hadir. Kalimatnya seolah menjadi jembatan emosional yang menghubungkan harapan para wali murid dengan janji suci para Taruna.
Selepas pengukuhan, langit SMK Negeri Jenawi seolah ikut bergemuruh menyaksikan aksi memukau dari Pasukan Inti Bhaskara Nusantara. Penampilan tari tradisional, demonstrasi Bela Diri Taruna (BDT) yang memacu adrenalin, serta formasi Peraturan Baris-Berbaris (PBB) dan variasi yang dieksekusi dengan presisi tinggi berhasil memukau seluruh hadirin. Gerakan serempak dan lantangnya teriakan yel-yel menjadi bukti fisik bahwa tempaan berbulan-bulan telah merubah mereka menjadi pribadi yang solid. Namun, momen paling mengharukan terjadi saat acara usai. Tangis haru tak terbendung dari para orang tua wali murid yang menyaksikan anak-anak mereka berdiri dengan gagah berseragam Taruna. Air mata itu adalah representasi dari doa-doa panjang yang akhirnya berbuah ketegaran, sebuah pemandangan yang mengingatkan kita bahwa di balik setiap Taruna yang tegap, ada cinta dan pengorbanan orang tua yang tak bertepi.
Peristiwa ini mengajarkan kita sebuah pesan yang mendalam: kedisiplinan dan cinta tanah air bukanlah sesuatu yang diwariskan melalui kata-kata kosong, melainkan melalui proses, keteladanan, dan air mata perjuangan. SMK Negeri Jenawi tidak hanya mencetak lulusan yang siap kerja, tetapi juga membentuk manusia yang siap menjadi pemimpin bagi diri sendiri dan lingkungannya. Seperti epolet yang kini tersemat, semoga terus mengingatkan para Taruna Angkatan IV bahwa mereka sedang memikul kehormatan, nama baik almamater, serta masa depan bangsa. Semoga semangat yang berkobar di halaman sekolah ini tidak pernah padam, melainkan menjadi api kecil yang menerangi perjalanan hidup kalian menuju puncak cita-cita. Jayalah Taruna SMK Negeri Jenawi! Jayalah generasi penerus bangsa!