Isi Berita / Informasi
Jenawi (17/07/2026) – Halaman SMKN Jenawi pagi itu bukan sekadar tempat berdiri, melainkan ruang temu antara semangat muda dan nilai-nilai abadi. Di hadapan para siswa baru, guru, dan seluruh organisasi sekolah, ROHIN hadir bukan untuk memamerkan diri. Mereka datang menyalakan api kecil di dada setiap pendatang: bahwa menjadi pelajar bukan hanya soal angka, tapi tentang membangun jati diri yang berakar, berkarakter, dan penuh cinta.
Keheningan mengambil alih saat Belva dan Yani melantunkan Weda Wakya dari Bhagavad Gita 9.29. Sloka itu mengajarkan satu kebenaran sederhana yang sering terlupa: Tuhan mencintai semua makhluk tanpa pilih kasih. Di tengah dunia yang gemar mengotak-kotakkan, pesan ini menikam hati. Jika Sang Pencipta saja tidak membeda-bedakan, mengapa kita justru sibuk merasa berbeda? Sebuah renungan sunyi yang membuka MPLS dengan kesadaran, bukan sekadar seremonial.
Lalu hening itu pecah. Baleganjur menggelegar, menyalakan darah muda yang hadir. Diiringi Tari Rangda yang magis, ROHIN menyampaikan pesan visual yang dalam: hidup adalah pertempuran terus-menerus antara keberanian dan ketakutan, antara terang dan gelap dalam diri sendiri. Setiap siswa adalah ksatria bagi batinnya sendiri. Tanpa banyak kata, panggung itu berbicara lantang lewat irama dan gerak, membakar semangat untuk terus berjuang menjadi pribadi yang menang atas kemalasan, ego, dan putus asa.
Inilah inti demonstrasi ROHIN: memperkenalkan organisasi sebagai jalan sunyi menempa diri. Tujuannya tak muluk-muluk—menumbuhkan bangga pada identitas, mengasah kreativitas dan kepemimpinan, serta merajut toleransi dari dalam hati. Pesan moralnya abadi: pendidikan sejati bukan tentang memenuhi kepala, melainkan membangunkan hati yang paham bahwa mengasihi tanpa syarat adalah prestasi tertinggi. Semoga bara yang dinyalakan pagi ini tak padam oleh waktu. Biarkan SMKN Jenawi menjadi rumah tempat ilmu dan kebijaksanaan tumbuh berdampingan, melahirkan generasi yang tangguh secara akal dan benderang secara batin.
Keheningan mengambil alih saat Belva dan Yani melantunkan Weda Wakya dari Bhagavad Gita 9.29. Sloka itu mengajarkan satu kebenaran sederhana yang sering terlupa: Tuhan mencintai semua makhluk tanpa pilih kasih. Di tengah dunia yang gemar mengotak-kotakkan, pesan ini menikam hati. Jika Sang Pencipta saja tidak membeda-bedakan, mengapa kita justru sibuk merasa berbeda? Sebuah renungan sunyi yang membuka MPLS dengan kesadaran, bukan sekadar seremonial.
Lalu hening itu pecah. Baleganjur menggelegar, menyalakan darah muda yang hadir. Diiringi Tari Rangda yang magis, ROHIN menyampaikan pesan visual yang dalam: hidup adalah pertempuran terus-menerus antara keberanian dan ketakutan, antara terang dan gelap dalam diri sendiri. Setiap siswa adalah ksatria bagi batinnya sendiri. Tanpa banyak kata, panggung itu berbicara lantang lewat irama dan gerak, membakar semangat untuk terus berjuang menjadi pribadi yang menang atas kemalasan, ego, dan putus asa.
Inilah inti demonstrasi ROHIN: memperkenalkan organisasi sebagai jalan sunyi menempa diri. Tujuannya tak muluk-muluk—menumbuhkan bangga pada identitas, mengasah kreativitas dan kepemimpinan, serta merajut toleransi dari dalam hati. Pesan moralnya abadi: pendidikan sejati bukan tentang memenuhi kepala, melainkan membangunkan hati yang paham bahwa mengasihi tanpa syarat adalah prestasi tertinggi. Semoga bara yang dinyalakan pagi ini tak padam oleh waktu. Biarkan SMKN Jenawi menjadi rumah tempat ilmu dan kebijaksanaan tumbuh berdampingan, melahirkan generasi yang tangguh secara akal dan benderang secara batin.