Habituasi merupakan kegiatan pembiasaan baik yang diselenggaran oleh SMKN Jenawi pada setiap harinya yaitu pada selasa, rabu, dan kamis. Kegiatan Habituasi pada SMKN Jenawi yang sudah terlaksana selama satu semester yaitu berupa kegiatan habituasi Public Speaking, Empat Pilar Kebangsaan, Literasi, Pembiasaan Kegamaan, Tayangan Video Motivasi, dan Gaya Hidup Sehat. Kegiatan habituasi pada kesempatan ini Rabu, 22 Mei 2024 yaitu berupa kegiatan sarapan bersama dengan menu sayur hijau dan buah-buahan segar yang diikuti oleh seluruh warga sekolah baik peserta didik, pendidik dan staf tata usaha SMKN Jenawi.
Kegiatan sarapan bersama bertujuan untuk menjalin kerukunan antar peserta didik dan seluruh keluarga besar SMKN Jenawi. Pentingnya sarapan di pagi hari yaitu untuk menunjang aktivitas sepanjang hari, terutama bagi anak usia sekolah. Sarapan tidak hanya memberikan energi tetapi kebiasaan sarapan juga mempunyai banyak manfaat untuk kesehatan. Sarapan dapat memberikan dampak positif untuk proses belajar di sekolah, baik dari proses berpikir hingga sikap dan perilaku pada peserta didik. Kemudian dengan sarapan, maka akan mencegah hilangnya konsentrasi pada peserta didik saat proses belajar sehingga lebih bersemangat dalam menjalankan aktivitas di sekolah
Selain itu, dilanjutkan dengan kegiatan Sosialisasi Pencegahan Pernikahan Dini dari BP2AKB Kabupaten Karanganyar. Dari kegiatan sosialisasi tersebut, peserta didik diberi penyuluhan bahaya melakukan pernikan dengan usia yang belum matang baik secara fisik, psikis, maupun mental yang sering terjadi dan mengakibatkan meningkatnya perceraian bahkan kematian pada bayi dan ibu melahirkan. Kehamilan maupun proses persalinan pada usia muda tentunya memiliki risiko atau komplikasi yang berbahaya, antara lain: Perempuan yang melahirkan sebelum usia 15 tahun memiliki risiko kematian 5 kali lebih besar daripada perempuan yang melahirkan pada usia >20 tahun. Bayi yang lahir dari perempuan usia <18 tahun memiliki risiko mortialitas dan morbiditas 50% lebih besar daripada bayi yang lahir dari ibu usia >18 tahun. Bayi lahir prematur, BBLR, dan pendarahan persalinan.
Untuk mengurangi angka kematian ibu dan anak di seluruh dunia, berbagai usaha dilakukan antara lain: Meningkatkan pendidikan dan pemberdayaan perempuan. Jika edukasi perempuan tinggi, harapannya akan lebih melek tentang kesehatan. Sehingga mampu menentukan untuk menentukan pernikahan ataupun kehamilan. Peningkatan pengetahuan terkait kesehatan reproduksi. Dengan adanya penyuluha tersebut diupayakan dapat mengurangi pernikahan dini sehingga angka kematian ibu maupun bayipun akan menurun.